Idealisme: Menjaga Pemikiran Kritis

Saat kita masih kecil terkadang kita sering mengeluhkan upacara bendera yang diadakan tiap hari senin. Betapa tidak, pagi-pagi kita disuruh berangkat ke sekolah untuk persiapan upacara. Setelah itu, pelaksanaan upacara juga sampai siang. Hal ini diperparah lagi dengan teriknya panas matahari diatas kita. Bahkan terkadang medis yang dipersiapkan pun tidak sampai kekurangan pekerjaan karena adanya beberapa murid yang pingsan.

Kita boleh menolaknya, tapi itulah salah satu cara yang diterapkan leluhur kita untuk menanamkan rasa nasionalisme dan kita harus memilikinya. Setiap minggu sekali kita diajak untuk mengingat kembali tujuan serta visi bangsa ini. Semuanya tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Bahkan beberapa poin juga ditegaskan kembali pada dasar negara Pancasila.

Para pendahulu kita menginginkan Indonesia yang dicintai seluruh rakyatnya yaitu dengan menanamkan rasa cinta tanah air mulai dari bidang pendidikan. Selain mengikuti upacara bendera setiap hari senin, siswa-siswa mendapatkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Hal ini dilakukan karena merekalah, generasi muda terdidik, yang nantinya akan meneruskan perjuangan mengisi kemerdekaan.

Sekolah atau perguruan tinggi merupakan tempat yang sangat kondusif bagi perkembangan pelajar. Bagaimana tidak, segala sesuatunya tertata sangat rapi dan baik agar para pelajar dapat menyerap ilmu dengan baik. Ditempat ini pula pemikiran-pemikiran kritis mengenai kondisi bangsa diciptakan. Soekarno yang merupakan salah satu orang terpelajar pada masa itu berhasil memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini. Selain itu, peristiwa reformasi tahun 1998 yang merupakan awal transformasi sistem pemerintahan juga besumber dari gerakan massif mahasiswa. Hal ini terjadi karena mereka memiliki idealisme yang tinggi. Idealisme yang tidak dimiliki oleh orang-orang diluar mereka bahkan pemimpin-pemimpin negara.

Orang-orang yang duduk dibangku kuliah saat ini nantinya juga akan menjadi pemimpin-pemimpin. Tapi melihat kondisi saat ini, dimana pemerintah banyak menuai kritik dari masyarakat karena berbagai masalah terkait korupsi, muncul pertanyaan apakah idealisme yang melekat erat ini akan luntur juga oleh godaan-godaan uang?

Pada kenyataannya kehidupan di luar sangat berbeda dengan kehidupan ketika di sekolah ataupun perguruan tinggi. Banyak kekuatan yang mempengaruhi arah gerak kita sehingga untuk tetap berjalan di jalan yang lurus dibutuhkan usaha besar. Terkadang ketika kita tidak ingin korupsi, lingkungan kita sudah basah oleh uang haram dan parahnya hal itu sudah membudaya. Kalau begitu hanya ada dua pilihan: ikut korupsi atau keluar.

Tapi cobalah kita pikirkan kembali idealisme yang telah kita bangun di lingkungan pendidikan sejak kecil sampai dewasa. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan daripada hanya memikirkan ego masing-masing. Rakyat Indonesia yang berjumlah 200 jutaan jiwa tidak semuanya merasakan nasib baik yang sama dengan kita. Masih banyak orang-orang yang tinggal dikolong jembatan, makan makanan sisa serta terlunta-lunta di jalanan. Ingatlah bahwa dalam kenikmatan yang kita terima masih ada hak-hak rakyat miskin. Kalau belum bisa memberi setidaknya jangan merampas.

Idealisme ini perlu dijaga, tidak hanya tumbuh subur saat di sekolah atau kuliah saja lalu hilang tanpa sisa setelah berada di puncak, tapi harus terus konsisten walau dalam kondisi, rintangan serta godaan yang berat. Indonesia merupakan alasan yang masih cukup mudah diterima untuk tidak melakukan kecurangan-kecurangan. Negeri ini sedang tumbuh dan berkembang. Bahkan, negara-negara di dunia memprediksikan masa keemasan Indonesia tahun 2025 nanti dimana Indonesia menjadi negara yang berpengaruh besar pada perekonomian dunia. Tugas kita sebagai rakyat Indonesia adalah saling membantu satu sama lain, yang kaya bantu yang miskin, yang pintar bantu yang bodoh, yang jujur bantu yang munafik, serta yang baik bantu yang buruk untuk mewujudkan kembali masa kejayaan Indonesia.

telah dipublikasikan di iniokedotcom

 

Advertisements

One thought on “Idealisme: Menjaga Pemikiran Kritis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s