Pelajaran Perang Badar: Percaya pada pemimpin

Sudah delapan tahun Bapak SBY memimpin negeri ini. Namun, belum nampak kemajuan yang signifikan terhadap kualitas hidup masyarakat Indonesia. Lebih dari setengah rakyat Indonesia masih dalam keadaan miskin, hidup tidak layak serta memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Pengangguran juga terjadi dimana-mana dan tidak jarang hal ini menimbulkan berbagai permasalahan sosial.

Tidak hanya itu, berbagai kasus penyelewengan kekuasaan juga menjadi hal yang biasa terjadi. Kasus korupsi ditemukan di mana-mana. Namun, hal ini bukan berarti bahwa kasus korupsi dan kawan-kawannya (KKN) meningkat dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya. Adanya Komisi Pemberantas Korupsi secara tidak langsung membantu mengungkap berbagai penyimpangan yang terjadi sehingga terkesan banyak terjadi kasus korupsi.

Mungkin hal ini adalah sisi lain dari sistem pemerintahan Indonesia yang berbasis multi partai. Bayangkan, jumlah partai yang mengikuti pemilu bertambah secara signifikan setelah reformasi yang hanya diikuti oleh tiga partai (PDI, Golkar dan PPP) menjadi 48 partai pada pemilu 1999, lalu menjadi 24 partai pada pemilu 2004 dan 38 partai pada pemilu 2009. Tentunya masing-masing partai memiliki program kerja yang berbeda-beda dan tentu saja mereka membutuhkan anggaran dana untuk memutar roda organisasi partai mereka. Hal inilah yang kemudian menimbulkan budaya suap. Kader yang diangkat menjadi anggota DPR harus memberikan imbalan pada partai yang mengangkatnya dan salah satu jalan pintasnya adalah dengan korupsi.

Masyarakat pun tidak puas dengan kondisi bangsa yang seperti ini. Mereka menuntut perubahan. Mahasiswa dengan idealisme dan semangatnya yang berapi-api tidak bosan-bosannya berorasi didepan gedung rakyat menyatakan harapan serta aspirasi mereka. Hanya satu harapan, Indonesia yang lebih baik.

Perang Badar memberikan banyak pelajaran tentang sikap kita terhadap pemimpin. Sebelum melaksanakan perang Badar, Nabi SAW bertanya kepada pengikutinya mengenai kepastian niat mereka untuk merampas harta kaum Quraisy yang akan melintas. Maqdad bin Amir yang merupakan salah satu pengikutnya pun menjawab,“Ya, Rasulullah laksanakan apa yang diperintahkan Allah kepada Anda. Kami tetap bersama Anda…”. Bahkan S’ad meyakinkan kembali,”Kami telah beriman kepada anda dan kami pun membenarkan kenabian dan kerasulan Anda. Kami pun telah menjadi saksi bahwa apa yang telah anda bawa adalah benar. Atas dasar itu kami menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada anda. Jalankanlah apa yang Anda kehendaki, kami tetap bersama Anda. Demi Allah , seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun  ke dalamnya, kami pasti akan terjun bersama anda…”.

Dari uraian di atas jelas sekali penggambaran kesetian dan kepercayaan para Sahabat kepada Rasulullah. Bahkan mereka siap terjun ke lautan jika Rasul melakukan hal itu. Kita sebagai warga negara yang baik seharusnya juga percaya pada pemimpin kita. Mereka pasti punya impian untuk memajukan Indonesia. Kita juga harus berkontribusi untuk memajukan bangsa ini sesuai bidang keahlian kita.

Namun, kepercayaan bukan berarti sepenuhnya menyerahkan keputusan pada pemerintah. Pemerintah juga manusia yang punya hasrat dan nafsu. Tidak jarang mereka juga melakukan kesalahan-kesalahan. Maka dari itu, kita juga harus melakukan kontrol terhadap kinerja pemerintah.

Dalam peristiwa Perang Badar, ketika Rasulullah tiba di lembah Badar, tempat mencegat rombongan Quraisy, salah seorang pengikut meragukan tempat singgah yang dipilih Rasulullah dan menyarankan pindah ke tempat yang dekat dengan sumber air sebagai tempat berlindung. Rasulullah pun mengakui bahwa tempat yang telah dipilihnya bukan bersumber dari wahyu dan petunjuk Allah dan akhirnya Beliau bersama rombongan pindah ke tempat yang dekat dengan sumber air tersebut. Akhirnya dengan tempat yang strategis serta dengan bantuan dari Allah melalui bala tentara malaikat, Rasulullah dengan prajurit yang hanya berjumlah 300an orang berhasil mengalahkan kaum Quraisy yang berjumlah 1000an orang.

Oleh karena itu, kita harus percaya kepada pemimpin kita. Kita harus mendukung kebijakan-kebijakan yang telah dibuat. Namun, kita juga harus tetap kritis, pemimpin bukan Tuhan yang selalu benar, mereka juga manusia yang terkadang juga khilaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s