MIKROHIDRO MASA DEPAN ENERGI INDONESIA

Sebagai negara berkembang Indonesia memiliki stabilitas ekonomi yang cukup baik. Dalam beberapa tahun terakhir ketika terjadi krisis ekonomi global dimana negara-negara Eropa serta USA mulai gelisah karena pertumbuhan ekonomi mereka mengalami penurunan hebat, Indonesia menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang konsisten. Bahkan, Indonesia tetap menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi bagi para investor. Masyarakatnya pun juga masih memiliki tingkat konsumsi yang tinggi.

Disisi lain, pertumbuhan ekonomi selalu diikuti dengan peningkatan kebutuhan energi. Munculnya pabrik-pabrik baru di kota memaksa Perusahaan Listrik Negara (PLN) serta perusahaan listrik swasta meningkatkan kapasitas produksi listriknya. Selain itu, peningkatan taraf hidup masyarakat juga berdampak pada konsumsi energi listrik yang lebih besar.

Untuk pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil, hal ini bisa dilakukan secara mudah karena produksi listrik berbanding lurus dengan jumlah bahan bakar yang digunakan. Sedangkan untuk pembangkit listrik tenaga air, hal ini cukup sulit karena produksi litrik sangat ditentukan oleh ada tidaknya air pada tanggul. Untuk mengatasi peningkatan kebutuhan listrik, PLN memilih untuk meningkatkan produksi listrik pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil, seperi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), serta Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU).

Komitmen Indonesia untuk reduksi emisi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki popularitas yang baik di dunia Internasional khususnya dalam hal kampanye isu lingkungan. Beberapa bulan lalu, beliau mendapatkan predikat sebagai Global Champion for Disaster Risk Reduction. Beberapa kebijakan yang dikeluarkan terkait isu-isu lingkungan pun dapat dibilang cukup berani. Salah satu kebijakan yang kontroversial adalah pengurangan emisi hingga 26 persen atau 41 persen dengan bantuan internasional pada tahun 2020.

Pengurangan emisi tentunya berkorelasi kuat dengan pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia yang sedang mengalami pertumbuhan, hal ini menjadi sebuah dilema. Pengurangan emisi dapat dilakukan dengan menurunkan produksi atau menggunakan teknologi baru yang lebih canggih. Kedua pilihan tersebut merupakan hal yang sulit karena akan mengurangi pendapatan perusahaan.

Selain dari industri, sebagian besar porsi emisi juga berasal dari energi. Bahan bakar fosil yang notabene merupakan sumber energi listrik utama di Indonesia juga menghasilkan emisi yang tidak dapat diabaikan. Hal ini mendorong pemerintah untuk melakukan transisi energi menuju sumber energi yang lebih bersih.

Saatnya energi terbarukan
Energi terbarukan merupakan energi yang tidak akan habis karena jumlahnya yang tidak terbatas di alam serta bisa diproduksi ulang oleh alam. Selain jumlahnya yang tidak terbatas, energi terbarukan juga merupakan salah satu sumber energi yang bersih karena tidak mengeluarkan emisi. Jenis energi terbarukan tersebut dapat berupa energi surya dari matahari, energi air, energi angin, energi panas bumi serta bioenergi atau biofuel.

Semua energi terbarukan tersebut telah berkembang dan menjadi energi alternatif di dunia. Bahkan di Pulau Samso, Denmark, sumber energi yang digunakan seluruhnya berasal dari sumber energi terbarukan sehingga pulau tersebut mendapatkan predikat sebagai zero-emission island (pulau tanpa emisi). Walau masih dalam porsi yang cukup kecil, Indonesia juga telah mengembangkan energi terbarukan tersebut..

Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah termasuk sumber energi terbarukan. Indonesia menerima energi matahari sepanjang tahun yang siap dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti fotosintesis tanaman pertanian, pengeringan garam, penghangatan air, pembangkit listrik tenaga surya (photovoltaic) dan lain-lain. Namun begitu, tingkat keawanan di wilayah ekuator cukup tebal sehingga potensi energi surya tidak maksimal di Indonesia. Namun hal ini tidak menghalangi pengembangan sumber energi surya.

Dalam suatu forum internasional, Al Gore, mantan wakil presiden Amerika Serikat yang saat ini juga merupakan aktivis di bidang lingkungan, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi geothermal terbesar kedua di dunia. Posisi Indonesia diatas pertemuan tiga lempeng besar dunia menyimpan energi yang cukup besar.

Potensi energi angin di Indonesia tidak terlalu besar. Di Indonesia  angin berhembus dengan kecepatan rendah sekitar 5 sampai 25 km/jam sehingga potensi untuk menghasilkan listrik cukup kecil. Beberapa wilayah berpotensi adalah bagian Selatan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Angin dari Samudra Hindia berhembus cukup kencang sehingga potensi energi angin pada wilayah tersebut juga besar.

Energi Air
Posisi Indonesia di khatulistiwa memberikan banyak keuntungan. Selain menerima energi matahari sepanjang tahun, konveksi dan pembentukan awan cukup sering terjadi hingga menimbulkan hujan. Selain itu, kondisi topografisnya yang bergunung-gunung memiliki potensi tersendiri. Air yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi akan membawa energi potensial yang bisa digunakan untuk memutar turbin pembangkit listrik tenaga air.

Saat ini sebagian besar kebutuhan listrik nasional dipenuhi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Menurut Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Indonesia memiliki potensi energi air yang tinggi sebesar 75 ribu MW walaupun kapasitas terpasangnya hanya 4200 MW. PLTA telah dibangun di beberapa waduk di Indonesia seperti Waduk Jatiluhur, Jawa barat dan Waduk Karangkates, Malang sehingga dapat menghasilkan listrik dalam skala besar.

Walaupun memiliki potensi yang tinggi, pengembangan PLTA di Indonesia dapat dibilang cukup lambat. Kendala yang dihadapi adalah biaya pembangunan infrastruktur yang tinggi. Selain itu, permasalahan sosial akibat konversi tata guna lahan yang kompleks juga menghambat pembangunan PLTA.

Micro Hydro
Permasalahan diatas dapat diatasi dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). PLTMH memiliki konsep yang hampir sama dengan PLTA, yaitu air yang mengalir digunakan untuk memutar turbin sehingga menghasilkan listrik namun dalam skala yang lebih kecil. Potensi energi air dimanfaatkan dengan membuat dam kecil pada badan air lalu mengalirkannya melalui pipa atau saluran air ke bawah menuju turbin generator sehingga dapat menghasilkan listrik. PLTMH juga dapat dibangun dari aliran sungai atau air terjun yang memiliki debit tinggi.

Karena skalanya yang kecil komponen penyusun sebuah PLTMH tidak komplek seperti PLTA. Untuk membuat PLTMH dibutuhkan dam untuk membendung air, pipa untuk menglairkan air, pipa hisap untuk mengembalikan tekanan ke udara, turbin dan generator untuk konversi gerakan turbin menjadi listrik, panel control untuk menstabilkan tegangan dan pengalih beban untuk penstabilan beban konsumen.

Biaya infrastruktur yang dibutuhkan untuk membuat PLTMH pun juga tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan manfaatnya dalam jangka panjang. Untuk membuat  sebuah PLTMH dengan kapasitas 1 kW hanya dibutuhkan biaya sekitar Rp 5 juta. Untuk menutupi biaya yang besar tersebut, pemerintah seharusnya dapat memberikan kredit dengan bunga rendah bagi desa-desa yang ingin mengembangkannya. Setelah membangun PLTMH masyarakat hanya perlu melakukan perawatan rutin yang tidak terlalu mahal.

Pembangunan PLTMH merupakan ide cerdas dan perlu diimplementasikan secara maksimal. PLTMH merupakan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi ataupun merusak ekosistem sekitar. Selain itu, PLTMH dapat menjadi solusi bagi desa-desa yang belum mendapatkan listrik karena pembangunannya yang sederhana. Pembangunan PLTMH juga akan menghasilkan lowongan pekerjaan baru yang bersifat green job. Bahkan, produksi listrik yang berlebih pun juga bisa dijual ke PLN atau dialirkan ke desa lain yang belum mendapatkan listrik.

Tri Mumpuni
Nama Tri Mumpuni akan selalu terdengar ketika berbicara tentang PLTMH di Indonesia. Beliau adalah salah satu penggiat PLTMH di Indonesia. Dalam sebuah wadah Ibeka (Institut Bisnis dan Ekonomi kerakyatan) dan dengan bantuan beberapa donor dan investor, beliau membangun PLTMH di lebih dari 60 lokasi terpencil tanpa listrik di Indonesia.

Menurut beliau, setiap desa memiliki potensi untuk berkembang namun terkendala oleh alat seperti listrik. Selain itu, sumber energi yang dibutuhkan saat ini adalah sumber energi terbarukan yang bersih. PLTMH menjadi pilihan karena sumber energi ini cukup sederhana sehingga mudah diterapkan serta merupakan sumber energi terbarukan yang tidak akan pernah habis.

Dalam pengoperasian PLTMH terdapat beberapa kendala yang dihadapi. Penebangan hutan di hulu merupakan salah satu faktor yang mengganggu operasional PLTMH. Air yang jatuh di hulu tidak terserap dengan baik sehingga mengurangi debit air yang mengalir. Perlu komitmen bersama antara pemerintah, swasta dan masyarakat agar proyek PLTMH tetap berjalan dengan baik.

Note:
This article is written for 2011 Essay Competition “Almamater Sakti” held by BEM FMIPA IPB and get runner up.

Advertisements

One thought on “MIKROHIDRO MASA DEPAN ENERGI INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s