Welcome to Heshe: Dongpu and Wangxiang Tribe Village

The exciting day had finally came. From Taipei Main Station we took train to Changhua, then transferred to Ershui then Shuili. From Shuili, Ms Chen and Jerry pick us up. Ms. Chen is the research associate from NTU Experimental Forest and responsible for Heshe internship while Jerry is the one who will assist us during our internship at Heshe.

IMG_2503

Ready for adventure

Along the way to Heshe, we stopped at a café for discussion with Ms. Chen about what we are going to do during our internship. In general, they expect both, intern and organizer get benefits. So, while enjoying the beauty of Taiwan, they expect us to helps local aboriginal tribes and promote eco-tourism in Taiwan. The interesting thing is that they let us to decide day-to-day activities during 4-weeks internship.

After arriving at Heshe office, Jerry showed us the room. I was surprise because the room is quite good and it has fast WIFI, especially when we compare it with dormitory that we stayed during orientation. Then, Jerry let us unpack and rest a bit before inviting us to meet the director of Heshe Forest Education Area and take us for Heshe tour. In the evening, Jerry invited us for dinner with his office colleagues in nearby food store.

IMG_2524 IMG_2558

In the following day, we went to Dongpu area which is 30 minutes away from Heshe. This place is famous with its waterfalls and hotspring. Nevertheless, the first destination in our trip was the suspension bridge. Jerry dropped us at the gate of the short trail then we walked down to the suspension bridge.

After walking for about 10 minutes, we finally found the suspension bridge. We were very excited to cross the bridge but a small store next to the bridge which sell honey attracted us. Then, we came to the seller who is an old man. He explained a lot of things but in Chinese and luckily, we had Yu Ting who translated it for us. Philip finally decided to buy one which costs NTD 500 (price was reduced from NTD 600) after trying the samples that he gave us.

IMG_2577 IMG_2579 IMG_2612

From the first suspension bridge, we walked to the hiking trails to Dongpu waterfalls. Along the way to hiking trails, there are a lot of hot spring resorts. At that time, we did not have chance to try the hot spring but we may try it later.

We needed 40 minutes to walk up to the waterfalls, including picture taking which is supposed to take a lot of time. Along the way, we found another suspension bridge. And from that suspension bridge we can see a small waterfall. Unfortunately, we didn’t find a way to go there. Not far from the suspension bridge, we found another small waterfall, which is called couple waterfall. And shortly, we arrived at the final waterfall, called rainbow waterfall, which is the biggest one. We want to go to swim but it is not allowed to do so. Because the stream was too dangerous. In total, we found 4 waterfalls through the hiking trails.

IMG_2651 IMG_2660 IMG_2707

In the afternoon, Jerry introduced us to Bali, who is the tour guide for Wangxiang aboriginal village. Then Bali invited us for a short tour in the village. In every house, they have a board made of stone with a short story about the family written on it. In some houses we found similar name which means they come from the same ancestor.

Bali also took us to see the church which is the main religious place for this tribe. This place also has library for children to study. Wangxiang tribe also has community activity center for ritual or cultural performance. After harvesting season, they used to have celebration with dance and choir performances. All villagers participate in this activity, from children to elders.

IMG_2740 IMG_2815 IMG_2755 IMG_2814

Another interesting thing in this trip is that, we found many similarities between Bunun language (used by Wangxiang villagers), Tagalog (Filipino) and Javanese (used by people in Java island Indonesia). We tried to count from 1 to 10, and found many of them quite are similar.

Can be found here: http://treasuremaptw.org/welcome-to-heshe-dongpu-and-wangxiang-tribe-village/

Indonesian Cultural Day 2016

Setahun lalu PPI NCU mengadakan Indonesian Cultural Day (ICD) yang kedua. Pada saat itu, saya diamanahkan jadi kadiv acara. Alhamdulilah tim-tim acara sangat kreatif dan berkomitmen penuh untuk ICD. Pada saat itu, kita kurang orang banget, cuman 40an orang. Dan yang bisa dijadikan panitia dan pemain mungkin tidak sampai 30 orang. Alhasil, banyak yg double job. Banyak yang main sampai 3-4 kali, termasuk wela, ketua panitia dan ketua PPInya.
Walaupun banyak kendala ini itu, alhamdulilah kegiatan ICD yang kedua itu berjalan lancar. Jumlah peserta meningkat cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Selesai ICD, ngobrol2 sama temen2 acara. Kita sama2 punya mimpi buat bikin ICD lebih besar, dengan tempat yang dapat menampung lebih banyak orang dan fasilitas yang lebih lengkap.
Fall tahun 2015, ada lebih dari 50 orang yang datang ke NCU. Total mahasiswa menjadi lebih dari 100 orang. Gak hanya itu, kebanyakan anak2 baru ini memang masih muda tapi punya bakat di bidang seni, seperti paduan suara, penyanyi, gitar, fotografi, drama, dll. Saya baru sadar ini ketika panitia ICD sudah terbentuk.
Desember 2015 kita membentuk panitia dan Ellsa jadi ketuanya. Anaknya aktif dan selalu bersemangat untuk nyiapkan ICD. Teman2 panitia yang lain juga sangat antusias dan berdedikasi buat bikin kegiatan ini sukses (Lebih baik show up supaya orang lain tahu kita punya minat dan bakat di suatu bidang).
Dari beberapa kali diskusi, kami memutuskan untuk mengadakan ICD di grand lecture hall. Dengan kapasitas sekitar 500 orang. Kami juga mengharapkan lebih banyak orang yang datang dan mengikuti kegiatan ICD. Oleh karena itu, awal januari kita mulai mondar mandir di taipei buat cari sponsor.
Singkat cerita kita dapat beberapa sponsor yang siap mendukung acara kita. KDEI sebagai perwakilan RI di taiwan juga mendukung penuh kegiatan kami. Mereka juga menawarkan peminjaman barang dan transportasi. Mereka juga membantu mengenalkan kami pada Dream Community. Dari sinilah kita mulai berkolaborasi dengan komunitas lain.
Ellsa sangat aktif berkomunikasi dengan Dream Community. Kebetulan beberapa staffnya adalah orang Bali. Jadi lebih enak untuk komunikasinya. Kita ditawarkan peminjaman berbagai properti tari, payung, backdrop, dll. Intinya mereka siap mendukung kegitan kami. Sebagai timbal balik, kami dilatih gamelan untuk ditampilkan di ICD. Ini kali pertama gamelan ditampilkan di Taiwan (tepok tangan). Tidak hanya itu, mereka juga membawakan ogoh-ogoh patung ganesha yang jadi salah satu magnet penarik perhatian orang2 untuk datang ke ICD.
Secara kepanitiaan ICD tahun ini lebih rapih dengan jobdesk yang lebih jelas. Walaupun pada perjalanannya banyak perubahan, tapi alhamdulilah tetap berjalan lancar. Semua orang bekerja keras untuk bikin kegiatan ini sukses dan alhamdulilah kita banyak dukungan dari berbagai fihak (berjejaring dan berkolaborasi itu penting).
Pada saat hari H, kita tidak menyangka kalau pesertanya bisa sangat banyak. Padahal terakhir pendaftaran online baru sekitar 300an. Nasi kuning yang kita siapkan untuk 400 orang pun juga sudah ludes tanpa sisa. Beberapa media juga turut meramaikan meliput kegiatan ini, slah satunya NCU.
Kita juga kedatangan tamu, Bunda Pipit Senja, seorang penulis yang didampingi dua orang pegiat seni di Taiwan, Ms Lin dan Mr Alex. Sepanjang kegiatan ICD mereka sangat excited. Alex tak henti-hentinya mengambil foto dan video berbagai kegiatan kita. Bahkan mungkin dokumentasinya lebih lengkap dari punya panitia (no hurt feeling guys, kita memang kurang orang). Setelah acara pun dia juga masih aktif upload2 foto dan video di timeline facebooknya. Seakan dia juga bagian dari panitia ICD. Bunda Pipit pun juga menulis sebuah artikel di website resminya tentang ICD (terharu).
Usai kegiatan, saya banyak dapat ucapan selamat dan pujian dari teman-teman kelas, KDEI, maupun teman-teman lain yang menonton. Sepertinya anak2 PPI juga masih hanyut dalam euroria ICD. Berbagai foto dan video ICD banyak muncul di timeline facebook. Mungkin itu jadi penampilan pertama mereka, tapi langsung di luar negeri dengan jumlah penonton yang tidak tanggung2. Atau mungkin mereka tidak tampil tapi aktif mengkonsep acaranya, dan itu sukses. Selamat guys. You finally made it.
Banyak cerita, pengalaman, keseruan selama menyiapkan ICD ini. Mungkin jadi lebih dekat juga dengan beberapa orang yang awalnya masih agak kaku. Anak-anak juga jadi lebih berbaur dan tidak bergrup-grup.

Refleksi Tahun 2015

Banyak banget hal yang terjadi di tahun ini. Semuanya terasa begitu cepat.

12309285_1090688437632273_678392780_n.jpg

 

Januari

Awal-awal tahun dulu masih disibukkan dengan persiapan ICD yang diadakan bulan Maret. Terus mulai gabung juga di kepengurusan PPI Taiwan. Ya alhamdulilah banyak dapat relasi dan pengalaman disini, sesuai tujuan awal. Tapi memang kontribusi kurang. FYI, barusan aja masih ngerjain buku kumpulan esai yang merupakan salah satu proker divisiku.

Februari

Rencana awalnya pengen cari tempat magang buat winter vacation, tapi ya ternyata susah. Di bulan ini masih sibuk latihan buat persiapan ICD sih. Selain itu juga, ngebut buat ngejar beresin 2 paper, buat konferensi dan lomba paper ICDF.

Maret

Maret pas kegiatan ICD. Setelah 3 bulan persiapan masih aja banyak minus nya. Pengalaman memang guru yang terbaik. ya semoga ICD tahun depan bisa lebih baik. Di bulan ini juga dipaksa buat jadi ketua PPI NCU. Ya memang pada awalnya kurang siap tapi seiring berjalannya waktu banyak belajar juga. Oiya, di bulan ini juga mulai bergabung dengan keluarga NCU Toastmasters. Yah, emang agak berat, di tahun ini pegang 3 amanah 😀

April

Di bulan April kayanya gak ada yang spesial :p

Mei

Di bulan Mei ada lomba paper ICDF, dan alhamdulilah dapat award Outstanding Work. Selain itu, sempat juga ikut konferensi bareng Profesor Wu di Taichung. Oiya, akhir bulan ada KDEI Cup. Sempat deg-deg an juga sih, tapi alhamdulilah lancar.

Juni

Bulan Juni itu final exam dan persiapan mau pulang. Oiya, ada wisuda juga, anak2 banyak yang mau lulus.

Juli

Bulan Juli ini pendek banget kerasanya. Awal Juli udah di Indo tapi langsung ke Subang buat ketemu Pak Iskandar dan Bu Tri Mumpuni. Tinggal 3 hari disana banyak diskusi tentang pembangunan desa-desa tertinggal, konsep berbagi dan kesederhanaan. Selain itu juga sempat interview buat internship di GIZ Indonesia, tapi akhirnya gak diambil. Setelah itu juga ketemu beberapa teman kuliah dan teman SMA di sekitaran Jabodetabek.

Idul Fitri cuman 2 minggu di rumah. Karena harus langsung balik lagi ke Jabodetabek.

Agustus

Akhirnya gak jadi magang di GIZ tapi magang di IBEKA (kantornya Bu Puni). Disana ketemu anak Stanford yang super pinter dan juga anak Perancis yang kebetulan juga sama-sama magang. Di IBEKA lebih banyak belajar tentang konsep bisnisnya IBEKA dan juga ngajarin dan ngerjain GIS buat PLTMH. Memang bukan organisasi besar dengan struktur yang rumit dan profesional, tapi IBEKA serius buat bangun Indonesia.

Di bulan ini juga sempet ke nikahannya anaknya Bu Puni. Konsep pernikahan yang luar biasa. Sederhana tapi menarik banget. Karena resepsi dan akad nikahnya di depan air terjun. Yang lebih wow lagi, tamu-tamunya mantan menteri dan petinggi-petinggi dari Jakarta.

Oiya, selama di jabodetabek ditumpangi sama temen SMA yang super baik. Karena selain itu, hampir tiap hari dibeliin sarapan dan makan malam.

September

Awal September internship beres. Belum banyak diskusi dengan Bu Puni sih, tapi udah lumayan deket sama staf-staf nya. Dapat ide dan beberapa data juga buat dibawa ke Taiwan buat tesis. Sebelum balik ke Taiwan, sempet pulang dulu ke rumah, trus berangkat dari Surabaya.

Setelah di Taiwan lagi, ngerasa agak beda karena kebanyakan temen-temen udah pada lulus dan balik ke Indonesia. Tapi disini juga banyak teman-teman baru yang datang. Welcome party buat new students jadi ajang yang seru buat saling kenalan antar anggota PPI NCU. Dan disini juga ngerasa peran PPI buat jadi keluarga kedua selama kita di rantau, intinya saling menyemangati dan saling membantu.

Oktober dan November

Mulai serius ama tesis karena udah tahu mau ngerjain apa aja. Seiring berjalannya waktu banyak masalah baru yang muncul. Tapi disitulah kita belajar.

Desember

Ada yang bikin sedih di bulan ini. Tapi ada banyak hope juga, at least sudah ada rencana untuk beberapa bulan ke depan.

List of Internships in Indonesia

Good information for those looking for internship in ASEAN nations

Gap Year Southeast Asia

A new list of companies taking interns… this time for Indonesia! For the latest internship offers, not only in Indonesia, but all of Southeast Asia, visit my Facebook group “Praktikum in Südostasien”. I’m also happy about every hint for other internship opportunities in the region.

Business, Tourism, Law

NGOs & Other Organizations

View original post 68 more words

Kenapa milih kuliah di Taiwan (?)

Well, sebenernya dulu daftar beasiswanya gak di Taiwan aja sih. Dulu sempet kepikiran daftar di UGM juga. Terus sempat nyoba beasiswa Australian Awards, Fulbright, Monbusho, Turki. Yah, prinsipnya, selama masih ada kesempatan kenapa tidak mencoba? Lebih baik mencoba tapi gagal daripada menyesal karena tidak mencoba sama sekali 😀

10801616_856452564375796_6182821817679504143_n

Awalnya sih denger-denger aja dari cerita teman yang udah kuliah di Taiwan. Dia cerita tentang proses dan bla bla bla nya. Sampai akhirnya dia kasih saran kalau mau daftar kuliah di Taiwan coba daftar juga beasiswa dari Pemerintah Taiwan (seperti beasiswa MOE dan ICDF). Setelah itu saya juga coba googling tentang beasiswa2 tersebut. Dan sampailah juga di blog senior yang juga sama2 peserta program PPSDMS dulunya, yaitu disini. Ternyata Kak Galih ini penerima beasiswa ICDF. Jadi bisa nanya2 juga, hehehe.

Selain itu saya juga buka-buka websitenya beasiswa ICDF, yaitu disini. Dari situ saya baru tahu bahwa beasiswa ICDF ini hanya dikhususkan untuk jurusan-jurusan tertentu saja. Dari sekian puluh jurusan yang bekerja sama dengan ICDF ini, saya tertarik di jurusan IESD di National Central University (NCU). Simply speaking, di IESD saya bisa belajar tentang GIS dan energy technology, sama seperti yang saya rencanakan untuk penelitian S2. Selain itu, IESD adalah program internasional jadi gak perlu mahir bahasa mandarin dulu. Websitenya ada disini.

Ini nih beberapa alasan kenapa saya suka Taiwan,

  • Taiwan, memang belum diakui PBB sebagai sebuah negara #ribetbangetalasannya. Tapi kalau dilihat secara langsung, Taiwan ini negara yang maju (pake banget kalau dibandingin sama Indonesia, hehe).
  • Biaya hidup disini relatif murah bila dibandingin sama Jepang atau Singapore. Tapi pendapatan perkapitanya relatif tinggi dan rakyatnya hidup makmur dan sejahtera.
  • Selain itu, bisa dibilang negara ini jarang atau gak ada kriminal (pernah teman saya ketinggalan HP di taksi dan beberapa hari setelahnya HP tersebut dibalikin).
  • Public transportation yang super kece, kaya MRT, BRT, high speed railway, local train, yang (mungkin) bikin orang “males” naik kendaraan pribadi.
  • Dana penelitian dan pendidikan yang gede. Temen2 yang beasiswa dari DIKTInya kurang atau gak lancar masih ketolong beasiswa dari professor atau labnya. Kalau dengerin kuliah Energy Economic and Policy, emang ini rencana jangka panjangnya Taiwan buat ningkatin total factor productivity (TFP). Info tambahan dari Prof yang barusan ngasih ceramah, di Taiwan, satu perusahaan bisa punya 5000an patent, dibandingkan Indonesia yang saat ini hanya punya 3000an patent.
  • Taiwan ini bersih banget, ampe “sungkan” kalau mau buang sampah sembarangan. Kayanya setiap orang bertanggung jawab sama sampahnya sendiri. Jadi di dorm saya gak ada tempat sampah. Kita yang nyimpen sampah kita sendiri sampai numpuk, trus baru dibuang ke truk sampah yang nyamperin tiap sore. Sampahnya pun dipisah General sama Recycle.
  • Nyari makanan Indonesia gampang, hahaha. Minimal seminggu sekali lah catering. Menunya bisa rendang, bakso, mie ayam, dll.
  • Ini nih artikel yang ngegambarin salah satu kota di Taiwan.

Selain semua itu, salah satu alasan kenapa belajar di Taiwan adalah saya bisa belajar bahasa mandarin. Sebelumnya saya kerja di perusahaan kontraktor dan saat itu banyak berhubungan dengan perusahaan dari China dan Taiwan (Bukan banyak lagi sih, tapi hampir semuanya, hahaha). Ekonomi China memang sedang bagus. Selain itu, produk-produk China maupun Taiwan sudah banyak yang masuk ke Indonesia. Jadi, saya pikir kedepannya akan banyak kerja sama antara Indonesia dengan kedua negara ini. Dan mungkin ketika kita faham bahasa mandarin, kita sudah punya modal kuat untuk terlibat aktif di hubungan Indonesia dengan China ataupun Taiwan ini. Sebenernya gak hanya Indonesia, negara lain juga banyak berhubungan dengan China. So, no reason not to study mandarin when we have chance.

A Look Back at 2014

It was a blissful year. Got new experiences. Moved on from my daily routine as worker.

IMG_0001.JPG

January
Got email about my unsuccessful application for ads scholarship 😔
Got ideas about my future research. Started writing proposal.

February
Documents preparation for scholarship application, including medcheck.

March
Valen’s birthday and our anniversary 😍

April
EBTKE Conex paper preparation

May
Got tumpeng for my birth day 😊

June
3rd winner EBTKE Conex poster competition 😄
Accepted in NCU with TETO or ICDF scholarship (finally I chose ICDF)
Got job offer from PT Mitrakom (but finally I decline it)
Site visit to Asia Biogas power plant

July
Ied Fitr

August
Scholarship awarding ceremony at TETO Jakarta

September
My departure to Taiwan 😓

October
Field trip to Da Tang Power Plant

November
NCU Sport Day
TICA CUP

December
Final Party (my first experience to dance Aceh’s dance)
New Year’s Eve

Peta Potensi Energi di Indonesia

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, termasuk potensi energi primer dan juga energi terbarukan. Tabel dibawah ini menjelaskan potensi energi utama yang ada di Indonesia dan menjadi prioritas pengembangan pemerintah.

Jenis energi cadangan/ potensi unit
Batubara 104.8 x 10^9 Ton
Gas alam 164.99 Tscf
Panas bumi 9000 MW
Tenaga air 26321 MW

sumber: RUPTL (2013)

 

Pemerintah juga berencana mengembangkan energi baru terbarukan sesuai amanat Peraturan Pemerintah No 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional dimana pemerintah menetapkan target persentase energi baru terbarukan (EBT) dalam energi mixture nasional menjadi 17% pada tahun 2025. Tabel dibawah ini menjelaskan potensi EBT dan status pengembangannya.

EBT Potensi Unit Kapasitas terpasang unit rasio
Mini/Mikrohidro 500 MWe 86,1 MWe 17,22
Biomass 49.81 Mwe 445,0 MWe 0,89
Tenaga Surya 4,80 kWh/m2/hari 12,1 MWe
Tenaga Angin 9.29 MWe 1,1 MWe 0,01
Kelautan 240 GWe 1,1 MWe 0,01

sumber: RUPTL (2013)

 

Pemerintah telah melakukan pemetaan potensi energi nasional melalui Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. Peta tersebut dapat diunduh melalui link dibawah ini.

Aceh
Bali
Banten
Bengkulu
Gorontalo
Jakarta
Jambi
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Selatan
Kalimantan Tengah
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Riau
Lampung
Maluku
Maluku Utara
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Papua
Papua Barat
Riau
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Utara
Sumatera Barat
Sumatera Selatan
Sumatera Utara
Yogyakarta

sumber: Sunesia

Belajar TOEFL? Baca bukunya Betty Azar

Saya ingat dulu SMA pernah les TOEFL. Sebenarnya gak pernah ada niat buat ikut les ini, tapi alhamdulilah punya teman-teman yang berfikiran jangka panjang. Dan akhirnya pun saya juga merasakan manfaatnya.

 

Dulu saya ikut les TOEFL di sebuah lembaga kecil. Pak guru membawa buku khusus panduan berwarna biru. Judulnya English Grammar dan dikarang oleh Betty Schramfer Azar. Bukunya memang cukup lengkap, mulai dari tenses sampai jenis aturan grammar yang lain. Dalam buku tersebut juga ada jenis-jenis kata yang perlu dihafalkan, seperti gerund, to infinitive, dll. Namun begitu, saya kurang memahami tentang soal-soal yang ada didalamnya. Sepertinya harus didampingi oleh tutor untuk mengerjakannya. Hehe.

 

Buat temen2 yang pengen baca, silahkan diunduh file PDF nya disini

 

TINGKAT AKHIR YANG TAK TERLUPAKAN

“The future belongs to those who believe in the beauty of their dream” (Eleanor Roosevelt)DSC_0705 (Medium)

Sebaik-baiknya motivasi adalah motivasi dari diri sendiri (self-motivation). Dan mimpi selalu menjadi kata favorit yang diucapkan oleh motivator. Mimpi identik dengan keinginan dan harapan. Dan harapan positif kemudian menjelma menjadi sebuah kekuatan yang membangkitkan gelora dan semangat untuk berusaha dan berjuang mencapai mimpi yang besar.

Tahun 2012 sepertinya menjadi tahun keberuntunganku selama berkuliah di IPB. Tepatnya tanggal 4 Februari 2012 aku menginjakkan kaki di negeri Barata sebagai salah satu dari dua perwakilan Indonesia untuk mengikuti kegiatan Asia-Pacific UNEP TUNZA Youth and Children Conference. Disana aku bertemu dengan pemuda dan anak-anak dari Benua Asia lainnya untuk berdiskusi tentang isu-isu lingkungan dan menyiapkan sebuah rekomendasi untuk Konferensi Tingkat Tinggi Bumi Rio+20.

Kemudian Maret 2012, setelah melalui seleksi yang cukup ketat dari berbagai tingkat (jurusan, fakultas dan universitas), akhirnya aku berhasil mencapai salah satu mimpi besarku saat kuliah, yaitu menjadi Mahasiswa Berprestasi 3 di IPB. Bukan status atau gelar yang aku inginkan, tapi yang paling menarik adalah proses seleksinya. Aku mengikuti focus group discussion dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari tiap fakultas, mengerjakan tes standar IELTS, presentasi bahasa inggris dan karya tulis serta wawancara dengan dosen-dosen yang super kritis.

Terakhir, Juli 2012 menjadi the best summer I ever had. Waktu itu aku terpilih sebagai salah satu peserta dari summer camp yang diadakan oleh Federasi Russia. Aku mengikuti kuliah outdoor dengan suasana musim panas yang dingin di hutan pinus Eropa. Aku berkumpul dengan peserta dari belahan dunia lainnya dan belajar banyak tentang heterogenity. Hal ini yang kemudian membuka wawasanku tentang arti sebenarnya dari intercultural-understanding.

Aku memimpikan itu semua jauh-jauh hari. Setelah bermimpi aku membuat rencana dan peta hidup. Saat ingin menjadi mahasiswa terbaik misalnya, aku membuat rencana dengan membagi fokus bidang yang aku tekuni per tahunnya (akademik di tingkat 1, organisasi di tingkat 2 dan kegiatan ilmiah di tingkat 3). Dan mungkin, ini pula yang membuatku terpilih sebagai salah satu TF scholar saat itu.

Rencana-rencana itu kemudian aku share ke orang lain sebagai controlling point, menjadi penyemangat disaat bencana malas datang dan menjadi pengingat saat aku berjalan di jalur yang salah. Karena bagiku, keberuntungan adalah siap disaat kesempatan datang. Sehingga, untuk mendapatkan keberuntungan, kita juga harus berusaha menyiapkannya, salah satunya adalah dengan membuat rencana.

So, let’s dream big and make it comes true 